Cikarang Baru

Pasar tradisional yang terdesak

August 26, 2008 · 5 Comments

Nasib pasar tradisional? Lihat saja pasar tradisional di Cikarang Baru ini. Namanya dulu Passimal. Katanya artinya pasar siang malam, bisa aja bikin singkatan. Singkatang Jababeka saja sudah aneh ini ada singkatan yang lebih aneh lagi. Pasarnya seperti apa? Bau, becek, tak teratur, kotor. Benar-benar menurunkan semangat membeli, bukan meningkatkan hasrat kita membeli sesuatu.

Pasar Tradisional Passimal tinggal kenangan, sekarang era-nya Pasar Modern. Mmmm… lebih mendingan, bangunan permanen dua lantai, tapi lantai atas-nya masih kosong. Berjualan semua kebutuhan sehari-hari dari beras, sayuran sampai buah dan ikan segar yg masih berenang di kolam-nya. Kayaknya yg jualan disitu sebagian besar adalah mantan penghuni Passimal. Jadi meskipun sedikit terbantu oleh kondisi infrastruktur pasar tradisionalnya, namun sikap mentalnya belum berubah. Inilah contoh fasilitas yang lebih maju dari pengguna fasilitasnya. Akibatnya? lantai basah, pasar bau, sumpek kurang sirkulasi udara, agak gelap. Lagi-lagi, tidak menarik minat untuk membelanjakan sesuatu disana.

Coba bandingkan dengan Alfa Supermarket (sekarang malah diakuisisi Carrefour Express) dan ritel-ritel kecil macam Alfamart dan Indomaret. Wah, gak tega menuliskan perbedaannya…

Penulis yang sebenernya ingin sekali ikut menggerakkan perekonomian rakyat, dengan berbelanja ke pasar tradisional dibanding ke carrefour, ternyata di ujungnya masih mendingan mampir ke Plaza JB Carrefour Express atau malah ke Alfa/Indomaret.

Hhhh… bagaimana pasar tradisional itu akan bertahan ya?
Tapi hati penulis sejuk kembali setelah mengingat Pasar (tradisional) Lodaya di Bandung. Bersih, teratur, tidak perlu nawar, serba ada. Nyaman…

Categories: public places
Tagged: , , , ,